Pembelajaran Hebat Untuk Media di Indonesia

Salah satu hikmah yang patut dijadikan pelajaran sekaligus dicontoh oleh Indonesia dalam peristiwa hilangnya pesawat Boeing 777-200 dengan nomor penerbangan MH370 milik Malaysian Airlines (MAS) adalah pola komunikasi dan mekanismekendali pemberitaan yang dilakukan pihak Malaysia, dalam menghadapi media massa dan mengelola issu agar tak berkembang liar. Ini sangat berbeda jauh, bahkan bisa dikatakan bertolak belakang dengan yang terjadi di Indonesia setiap terjadi kecelakaan pesawat.

 

Hilangnya kontak dengan pesawat MH370 itu sendiri baru diumumkan Sabtu pagi, meski radar pesawat sudah tak lagi terlacak sejak sekitar pukul 02.40 dini hari.Pengumuman resmi kepada khalayak dan media massa dilakukan setelah lewat satu jam dari jadwal pesawat seharusnya mendarat di bandara Beijing.Sebelum ada pengumuman resmi, di papan display tertulis status “delayed”. Hal itu bukan dimaksudkan untuk membohongi, namun sebagai bentuk kehati-hatian demi menghindari kepanikan keluarga penumpang. Saya yakin sejak pesawat hilang kontak, pihak MAS pastilah sudah melakukan komunikasi dan koordinasi dengan menara pengawas yang terakhir menangkap sinyal pesawat tersebut. Namun untuk mengumumkan bahwa pesawat memang benar-benar hilang, Malaysia masih menunggu kepastian, sampai sejam setelah waktu mendarat.

 

Begitupun setelah resmi diumumkan bahwa pesawat MH370 hilang kontak, berbagai spekulasi liar berkembang. Namun pihak Malaysia – baik Pemerintah Malaysia maupun manajemen MAS – bergeming, semua issu dan spekulasi ditepis, sebelum benar-benar bisa dibuktikan. Issu pertama yang muncul soal ditemukannya “jejak” yang diduga pesawat MH370 di perairan Vietnam. Malaysia dalam rilis resminya langsung menolak issu itu sebelum bisa dibuktikan benar adanya. Bahkan ketika sehari kemudian Vietnam menyebut menemukan bekas tumpahan minyak yang diduga avtur, Malaysia tak mau begitu saja menerima asumsi itu.

 

Ketika dipastikan bahwa ada 2 – belakangan bertambah jadi 4 – penumpang pesawat tersebut yang menggunakan paspor curian, berkembang spekulasi adanya aksi terorisme. Malaysia menepis keras bahwa kehadiran FBI ke Kuala Lumpur karena dugaan terorisme. Mereka menyebut hadirnya FBI hanya untuk ikut membantu mencari pesawat karena ada penumpang berkewarganegaraan Amerika Serikat. Menteri Perhubungan Malaysia, Hisyammudin Hussein, hanya menyebutkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan intelijen negara-negara tetangga. Hal ini perlu bagi Malaysia, sebab jika benar penumpang berpaspor Austria dan Italia itu menggunakan paspor curian yang sudah dilaporkan h ilang sejak 2012 dan 2013, maka ini berarti kelalaian imigrasi bandara KLIA.

 

Sejak awal Malaysia sudah menegaskan agar media massa hanya mengutip keterangan resmi dari Pemerintah Malaysia atau pucuk pimpinan Malaysian Airlines. Sementara itu, manajemen MAS melakukan hal-hal yang perlu dilakukan. Misalnya Station Manager MAS di Jakarta menawarkan keluarga 7 penumpang pesawat asal Indonesia untuk terbang ke Kuala Lumpur dan memberikan fasilitas transportasi serta akomodasi. Begitu pun keluarga penumpang di Beijing, disediakan hotel di dekat bandara setempat. Artinya, Malaysia tetap melakukan apa yang seharusnya dilakukan terhadap keluarga para penumpang yang berduka, namun tidak menambah kepanikan dengan memastikan bahwa semua informasi hanya melalui satu pintu, agar tak terjadi kesimpangsiuran berita.

 

Setelah lebih 38 jam dilakukan pencarian tanpa ditemukan tanda-tanda yang berarti, barulah perwakilan MAS menyampaikan agar keluarga korban bersiap menerima kemungkinan terburuk. Kendati demikian, Malaysia tetap melarang segala bentuk spekulasi oleh media massa. Termasuk ancaman akan mempidanakan siapapun yang membuat pernyataan tak benar di media sosial terkait hilangnya pesawat MH370. Artinya bukan hanya media massa mainstream yang berupaya dikendalikan agar pemberitaan tak menjadi liar, namun juga pengguna media sosial yang biasanya justru memperkeruh situasi.

 

 

BAGAIMANA DENGAN DI INDONESIA?

Bandingkan dengan di Indonesia dalam beberapa kali kecelakaan pesawat sekitar 5-7 tahun terakhir ini. Ketika pesawat Adam Air hilang kontak pada awal tahun 2007 lalu, sehari setelahnya beredar issu ditemukannya asap dan puing pesawat di suatu titik di bukit tertentu. Semua ikut heboh, tak kurang media massa pun memberitakan. Ternyata issu itu sama sekali tidak benar bahkan menyesatkan dan membuat penyelidikan dan pencarian menjadi tidak fokus. Belum lagi kabar burung soal adanya keluarga penumpang yang katanya menghubungi ponsel keluarganya yang ikut dalam penerbangan itu, lalu sempat tersambung dan mendengar suara-suara tak jelas. Padahal, (katanya) hubungan telepon itu dilakukan sekian jam setelah pesawat hilang kontak. Issu tak jelas macam ini bisa dengan mudah meruak karena media massa dengan gegabah mewawancarai siapa saja, termasuk kerabat penumpang yang awam soal penerbangan, justru keterangannya diwarnai halusinasi, seakan-akan telepon tersambung dan mendengar suara tak teridentifikasi.Padahal pihak operator seluler justru memastikan bahwa tak ada sinyal terdekteksi.

 

Begitupun ketika sebuah pesawat yang melakukan penerbangan joyflight jatuh pada Mei 2012 lalu, issu bahwa ada 2 awak media majalah Antariksa belum mematikan ponselnya, langsung laris manis digoreng. Tulisan yang membahas issu tersebut, kendati belum dikonfirmasi kebenarannya, langsung dibagikan dan diteruskan kemana-mana, termasuk menggunakan jejaring media sosial dan pesan broadcastpada BlackBerry Messenger. Sama sekali tidak mempertimbangkan perasaan keluarga korban, yang tentunya sedang cemas, panik, berduka, masih pula seolah keluarganya jadi tertuduh penyebab terjadinya kecelakaan.

 

Jangankan kecelakaan pesawat, di Indonesia, kecelakaan kereta api saja bisa memicu beragam spekulasi dari yang masuk akal sampai yang bercampuraduk dengan halusinasi bahkan klenik. Media massa mewawancarai siapa saja, tanpa mempertimbangkan kualifikasi dan kompetensi nara sumber. Jika pihak berwenang dirasa pelit memberikan keterangan – padahal memang belum banyak keterangan yang bisa diberikan karena masih belum adanya kejelasan – media seolah tak sabar menunggu. Mereka memburu siapa saja untuk jadi sumber berita. Saksi mata yang benar-benar melihat langsung dan orang-orang di sekitar TKP yang tak melihat dengan jelas semua diwawancarai hingga terkadang keterangannya berlawanan satu sama lain. Bahkan meski orang tersebut sudah lansia dan kurang berpendidikan sehingga kualitas keterangan yang diberikan sulit dijadikan pegangan. Begitupun pihak keluarga dan teman-teman korban yang sebenarnya tak tahu banyak soal kejadian. Akhirnya, berita yang keluar beragam, lebih menjurus pada subyektifitas dan reaksi emosional serta sentimentalitas nara sumber. Kalau sudah liar, sulit mengendalikan.

 

Belum lagi pengguna media sosial yang ikut memperkeruh suasana. Ambil contoh saat pesawat Lion Air mendarat darurat di laut di Denpasar, beberapa bulan lalu. Hanya dalam waktu sekejap, di media sosial dan BBM sudah beredar gambar-gambar rekaan dengan maksud menjadikan kecelakaan itu sebagai candaan. Ini khas Indonesia : ditengah musibah dan bencana selalu ada yang menjadikannya gurauan. Ketika sebuah pesawat menabrak gunung Salak pun beredar humor, bahkan di saat upaya evakuasi dan kondisi korban belum ada kepastian. Perasaan keluarga korban benar-benar diabaikan, sama sekali tak ada rasa tepa selira(toleransi).

 

 

BAGAIMANA MEDIA TV INDONESIA MEMBERITAKAN HILANGNYA PESAWAT MH370

Seperti sudah saya duga, televisi di Indonesia tak kalah heboh memberitakan insiden yang menimpa pesawat milik MAS itu. Beberapa pengamat diundang untuk memberikan analisasnya. Keluarga korban yang sedang menunggu perkembangan resmi, diberondong kehadiran wartawan. Meski pertanyaan yang terlontar kadang hanya seputar firasat apa yang dirasakan keluarga, adakah pesan atau peninggalan terakhir sebelum korban naik pesawat nahas itu, dan beberapa pertanyaan tak penting yang bersifat pribadi.

 

Lucunya, TV One – yang tak kunjung belajar dari banyaknya kritikan – membuat pemberitaan bahwa hilangnya pesawat milik maskapai Malaysian Airlines itu memiliki kemiripan dengan hilangnya pesawat milik Adam Air tahun 2007 lalu. Begitu mendengar prolog yang disampaikan news anchor TV One, saya sudah merasa “it must be stupid”. Karena penasaran ingin tahu bagaimana TV One bisa menyimpulkan kesamaannya, saya tetap menonton tayangannya setelah jeda iklan.

 

Dalam tayangan itu TV One menyebutkan hasil investigasi KNKT dan dilengkapi dengan transkripsi pembicaraan pilot dan co-pilot di ruang cockpit sesaat sebelum pesawat jatuh. Dalam tayangan itu disebutkan pesawat Adam Air KI574 itu mengalami kerusakan alat bantu navigasi. Pilot dan co-pilot kemudian sibuk berkonsentrasi menangani kerusakan itu, sehingga terlambat menyadari bahwa kondisi pesawat sudah miring ke arah laut. Seperti sudah diketahui publik sebelumnya, kredibilitas dan bonafiditas Adam Air memang kurang baik, dalam setahun terakhir sebelum kecelakaan itu, sempat terjadi beberapa kali pesawat Adam Air salah mendarat di bandara yang tak seharusnya, karena kesalahan navigasi. Berbagai kebobrokan maskapai Adam Air itulah yang akhirnya memicu desakan untuk mencabut ijin operasional Adam Air.

 

Berbeda dengan Malaysian Airlines yang dikenal sebagai maskapai penerbangan yang bagus kredibilitasnya di Asia. Riwayat kecelakaan selama hampir 40 tahun terakhir, bisa dihitung dengan sebelah jari saja, salah satunya karena pembajakan. Jenis pesawat yang hilang kontak tersebut termasuk canggih dan dipastikan belum memiliki riwayat kerusakan. MAS memiliki beberapa pesawat sejenis yang semuanya dijamin dalam kondisi terawat baik. Sang captain pilot mengantongi 18 ribu lebih jam terbang selama bertahun-tahun. Jadi dari mana TV One bisa berkesimpulan bahwa hilang kontaknya MH370 mirip dengan Adam Air? Apakah sekedar karena sama-sama hilang kontak? Oh! Alangkah konyolnya jika menyamakan hanya karena sama-sama hilang kontak. Semoga TV One bisa lebih hati-hati, kalau tak ingin disomasi MAS.

 

 

BELAJAR DARI CARA MALAYSIA BERSIKAP

Sepertinya, sikap kehati-hatian dalam pemberitaan itu bukan hanya dimiliki Pemerintah Malaysia saja, namun sudah tertanam di masyarakatnya. Ketika Malaysia menggelar Pemilu tahun lalu, petang harinya saya menghubungi teman di Malaysia, menanyakan hasil Pemilu. Saya pikir hasil hitung cepat pastilah sudah dirilis, beberapa media Indonesia sudah memberitakannya. Tapi teman saya hanya membalas SMS itu sekedarnya : “hasilnya belum bisa dipastikan”. Esok harinya, barulah dia mengirim SMS komplit mengenai partai mana yang menang, beserta keterangan apakah kemenangan itu single majority atau simple majority.

 

Tampaknya Pemerintah Indonesia, otoritas penerbangan dan perhubungan, media massa dan seluruh masyarakat Indonesia – terutama pengguna media sosial dan media warga – memang masih harus belajar pada Malaysia bagaimana caranya mengelola issu dan mengemas pemberitaan serta menyikapi berita terkait musibah dan kondisi darurat lainnya. Sehingga tak perlu timbul kegaduhan yang meresahkan. Juga tak sampai menyebarkan issu yang menyakiti perasaan keluarga korban, apalagi menjadikan musibah jadi bahan candaan. Seyogyanya musibah justru bisa menjadikan solidaritas sosial kita lebih kuat dan kepekaan emosional lebih terasah. Semoga musibah negeri jiran ini bisa kita ambil hikmahnya.

Tulisan disadur dari : http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2014/03/10/salut-pada-cara-malaysia-mengelola-issu-dan-mengendalikan-pemberitaan-640383.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: