Tuntutan Machicha Mochtar pada Pak Moer

Berita-berita  media massa akhir-akhir ini digemparkan oleh ulah para public figure negeri ini yang sudah kebangetan. Ada perceraian,narkoba,korupsi,pornogarfi dan masih seabrek hal-hal yang memalukan. Sebagai contoh,sebut saja kisah video mesum Ariel Peterpan dengan Luna Maya dan Cut Tari (meski mereka tidak bermaksud mempublikasikan video adegan mesra mereka), sebelumnya ada kisah cinta segitiga KD (setelah pisah dari Anang) dengan pengusaha asal Timor Leste dan istrinya, dan masih banyak lagi kasus semacam itu di negeri ini. Mungkin kalau ditulis bisa jadi sebuah buku best seller diseantero negeri ini.

Dan sekarang muncul kasus baru  yaitu perseteruan antara Machicha dengan mantan suami sirrinya,Pak Moer (maksudnya Bapak Moerdiono yang mantan Menteri Sekretaris Kabinet era Orde Baru dan juga pernah menjabat ketua PELTI) memasuki babak yang kesekian kali yaitu tuntutan Machicha untuk nama Ayah anak pertamanya. Yang mana anak itu katanya merupakan buah hasil percintan Machicha dengan Pak Moer lewat jalur nikah sirri. Dan kasus ini sedikit menggeser popularitas kasus Ariel yang sebelumnya juga menggeser popularitas kasus korupsi pajak negeri ini.

Khusus untuk kasus terbaru,meski sebenarnya ini kasus lama yang belum terselesaikan,yakni perseteruan antara Machicha dengan Pak Moer yang mantan punggawa orde baru. Sebenarnya kalau dianggap selesai kasus ini sudah selesai. Kenapa?

Kita menegok sedikit ke belakang, hubungan antara keduanya merupakan hubungan yang tidak sah secara tatanan hukum Negara Republik Indonesia. Meski secara syari’at Islam hubungan keduanya halal namun kebiasaan yang terjadi di negeri ini bagi mereka yang melakukan pernikahan sirri harus berani menanggung resiko khususnya bagi si perempuanya. Maaf,karena hukum di negara ini bukan hukum Islam.

Penulis yakin haqul yakin bahwa pernikahan sirri yang dilakukan Machicha dan Pak Moer ini sah menurut syari’at agama Islam. Dan secara syari’at Islam anak pertama Machicha mempunyai nasab dari Pak Moer dan berhak menyandang nama bapaknya, itu menurut syari’at agama Islam . Meski ada sedikit keraguan publik apakah pernikahan sirri itu dilaksanakan ketika,maaf, Machicha sudah hamil atau belum. Kalau bener  saat pernikahan itu Machicha hamil berarti TIDAK ADA NASAB dari Pak Moer, bahkan perkawinan itu bathil,bathil dan bathil, wallahua’lam bishawab.

Tapi hukum yang berlaku di negeri ini bukan hukum Islam meski banyak hukum Islam yang dijadikan panutan. Karena perkawinan Machicha dengan Pak Moer tidak dicatatkan ke pencatatan sipil atau sejenisnya maka menurut aturan yang berlaku di negeri ini anak Machicha tidak berhak menyandang nama bapaknya.

Lebih-lebih mereka sekarang telah bercerai, yang laki-laki masih tetap setia dengan istri pertama yang perempuan juga sudah mendapatkan tambatan hati sampai membuahkan hasil seorang anak perempuan yang cantik. Walau tidak bercerai pun tidak bisa,apalagi kalau masih tetep keukeuh dengan pernikahan sirri ini tanpa dicatatkan di pencatatan sipil.

Intinya, apa yang menjadi tuntutan Machicha kepada Pak Moer  harus dilihat dengan jelas baik secara hukum Islam maupun hukum yang berlaku di negara ini. Karena secara hukum Islam anak Machicha berhak menyandang nama bapaknya karena anak yang lahir itu setelah terjadi perkawinan sirri dan mempunyai nasab dari bapaknya. Namun sesuai aturan perundang-undangan yang berlak di negara ini maka anak Machicha tidak berhak menyandang nama bapaknya.

Jika Machicha masih memaksa maka ia bisa dituntut secara pidana. Disini hanya faktor kemanusiaan yang bisa menyelesaikan permasalahan ini, amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: