Pak RT : Saya mau sambat Pak Presiden?

Rukun Tetangga atau biasa disebut RT atau apalah namanya adalah organisasi sosial kemasyarakatan yang mandiri berdasarkan azas kekeluargaan dan kegotong-royongan serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan nilai kehidupan sosial kemasyarakatan. RT ini merupakan suatu organisasi non struktural pemerintahan dan keberadaanya tidak bergantung pada struktur organisasi pemerintah daerah. RT juga merupakan ujung tombak dalam membantu keberhasilan Pemerintah Kelurahan yang dalam pembentukannya memperhatikan jumlah kepala keluarga sehingga diperoleh keterjangkauan yang memadai dan optimal.

Dari definisi dan pengertian di atas maka dapat disimpulkan RT itu bukan pekerjaan dan RT itu merupakan salah satu bentuk pengabdian sosial ke masyarakat. Akan tetapi di mata masyarakat umum seseorang yang terpilih sebagai ketua RT diibaratkan mendapat musibah. Ini hampir terjadi di negara ini, meski ada beberapa daerah yang tidak merasa keberatan untuk ditunjuk sebagai seorang ketua RT.

Dalam prakteknya kita selalu menemui adanya penolakan dari masyarakat jika ditunjuk untuk menjadi Ketua RT. Mereka akan selalu beralasan macam-macam agar tidak terpilih sebagai ketua RT. Ada alasan karena kesibukan, tidak bisa bicara di depan umum, malas atau alasan apalah yang penting tidak terpilih sebagai Ketua RT. Intinya mereka berebut untuk MENOLAK jika harus ditunjuk sebagai Ketua RT.

Yang lebih parah lagi jam kerja seorang ketua RT bisa melebihi jam kerja seorang Pegawai Kantoran. Bahkan seorang ketua RT dituntut untuk selalu siap dan siaga, tidak peduli itu siang atau malam. Sebagai bentuk pengabdian sosial ketua RT mestinya tidak perlu terlalu dibebani dengan hal-hal yang bersifat tuntutan.

Sebagai seorang ketua RT pasti akan mengorbankan waktu mereka untuk mengurusi masyarakat, baik itu waktu kerja, waktu istirahat atau waktu-waktu yang lain yang biasa ia gunakan untuk mencari nafkah tambahan. Ketua RT itu kan BUKAN PEKERJAAN ?

Ketua RT memang tidak menuntut ucapan terima kasih,sanjungan atau pujian dari masyarakat. Tapi kami juga tidak mau menerima guneman, rasanan, tekanan dari masyarakat, atau dalam bahasa Jawa pisuhan atau paido dari masyarakat. Sebagian besar bentuk pengabdian mereka sebagai ketua RT karena KETERPAKSAAN. Kenapa saya katakan ini keterpaksaan.

Seperti penjelasan di atas, seorang ketua RT harus mengorbankan kepentingan pribadinya hanya untuk mengurusi kepentingan masyarakat yang seakan-akan semua permasalahan sosial kemasyarakatan harus menjadi tanggung jawab seorang ketua RT.

Kami memang tidak menuntut berlebih kepada Bapak Presiden,hanya meminta apresiasi yang pantas untuk kami sebagai Ketua RT. Dengan jam kerja yang kami jalani setiap harinya, secara materi kami hanya dihargai Rp. 2000 per hari. Kalau itu dianggap merupakan salah satu bentuk amal, tanpa menjadi ketua RT pin kita bisa beramal. Asal ihklas, Tuhan pasti tahu dan akan membalasnya. Minimal seorang ketua RT secara materi diberi apresiasi sesuai UMR yang berlaku di daerahnya, itu harapan kami.

Demikian Bapak Presiden, sambat dan wadul kami sebagai ketua RT, semoga Bapak berkenan untuk menanggapi dan merealisasikan pemberian apresiasi yang pantas untuk seorang ketua RT,terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: